Menyelam di Raja Ampat!!!




Salah satu mimpi telah menjadi kenyataan! Saya tidak pernah menyangka, akhirnya saya bisa menyelami terumbu karang di Raja Ampat, pusat keanekaragaman hayati laut tropis terkaya di dunia. Bentang laut ini memiliki lebih dari 600 jenis terumbu karang dan lebih dari 1600 jenis ikan karang.

Perjalanan saya ke Raja Ampat berkaitan dengan kegiatan monitoring terumbu karang. Selama 17 hari (Oktober 2012), saya bersama tim monitoring berlayar dengan Kapal Putiraja mengarungi perairan Raja Ampat dan menyelami terumbu karang di luar Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) di kawasan ini. Dalam kegiatan ini, saya bertanggungjawab untuk meng-“absen” ikan, yakni menghitung jumlah jenis ikan dan mengestimasi ukuran panjangnya. Lebih jauh, pengamatan terhadap komunitas ikan ini bertujuan untuk mengetahui stok dan biomassa ikan karang yang penting bagi perekonomian dan ketahanan pangan.

Pagi itu, Putiraja membawa tim monitoring dari Sorong menuju Selat Dampier. Selama 3 hari, kami menyelami terumbu karang penghalang (barrier reef) yang memanjang di depan Teluk Mayalibit. Selama 4 hari berikutnya, kapten Putiraja pun terus memutar kemudinya ke pulau-pulau kecil di daerah Waigeo Barat, seperti Manyaifun, Mutus, Yeben hingga ke Tanjung Putus.

Hampir setiap hari, kami menikmati pemandangan bawah laut yang luar biasa. Ratusan ikan-ikan kecil hingga besar, termasuk hiu yang seringkali terlihat sedang berpatroli di terumbu karang. Penyu dan biota-biota di terumbu karang dengan warna-warninya yang khas menjadi teman kami selama survei.



Gerombolan ikan kakap dan bibir tebal yang kerap terlihat di antara terumbu karang (Foto: Edy Setyawan) 

Satu minggu telah berlalu dengan cepat. Selanjutnya kami bergerak ke selatan menuju Kepulauan Pam di Kepulauan Penemu. Dari sini, kapal membawa kami ke arah barat laut menuju P. Gag yang ada di bagian barat Kabupaten Raja Ampat. Dari pulau ini, kami pun melanjutkan perjalanan ke selatan menuju P. Bambu dan daerah di utara P. Misool.

Aktivitas di minggu kedua ini tidak jauh berbeda dengan minggu sebelumnya. Suatu hal yang membedakan adalah lokasi-lokasi penyelaman dengan kondisi yang masih bagus semakin sulit ditemukan. Banyak lokasi yang telah hancur karena pemanfaatan sumberdaya terumbu karang yang tidak bertanggungjawab. Penggunaan bom telah menyisakan rubble (patahan karang). Sungguh ironis melihat kondisi seperti ini di jantung segitiga karang dunia. Memang lokasi-lokasi yang rusak ini berada di luar KKPD dan bisa menjadi contoh nyata dengan tidak adanya pengelolaan di kawasan ini. Hal ini semakin menunjukkan pentingnya konservasi terhadap suatu kawasan untuk menjaga kelestarian sumberdaya yang ada di dalamnya.

nb: ditulis di atas Kalabia – kapal pendidikan konservasi laut di Raja Ampat – dalam perjalanan dari Wayag menuju Sorong (4 Nov 2012 dini hari).

Comments