Catatan perjalanan: Tukik-tukik dari Pulau Venu

Tujuan perjalanan saya kali ini adalah Pulau Venu, wilayah paling selatan dari Kabupaten Kaimana, Papua. Saya dan rekan-rekan dari Tim Monitoring CI Kaimana berencana untuk bermalam 2 hari di pulau berpasir putih ini. Tujuan kami sebenarnya adalah untuk melakukan mengamati pemijahan ikan di karang-karang di perairan sekitar P. Venu. Namun, mengamati penyu yang sedang bertelur dan pelepasan tukik ke laut juga menjadi sesuatu yang sangat menarik dilakukan di pulau ini. Sesuai dengan biota yang sering singgah di pulau ini, Venu memiliki arti yang sama dengan Penyu.

A new sea explorer
Tukik dari penyu sisik yang baru menetas dan siap dilepaskan ke laut (©Edy Setyawan)

P. Venu merupakan lokasi yang sangat penting untuk peneluran penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), dan penyu lekang (Lepidochelys olivacea). Penyu-penyu ini merupakan biota pengembara lautan yang akan kembali ke tempatnya lahir untuk berkembang biak, dalam hal ini bertelur. Namun, status penyu saat ini dalam keadaaan terancam karena pemanfaatan yang tidak bertanggungjawab terhadap telur dan dagingnya. Pasir pantai P. Venu berwarna putih dan juga sangat halus. Pantainya memiliki kontur yang bervariasi, dari landai hingga cukup curam dengan kemiringan 25-30o. Selain itu, pulau ini juga masih memiliki vegetasi pantai yang cukup lebat, seperti pohon kasuari, sehingga sesuai sebagai tempat pendaratan penyu untuk bertelur.

Malam pertama, setelah makan malam, saya menunggu kesempatan untuk mengelilingi pantai untuk berpatroli kalau ada penyu yang mendarat dan bertelur. Patroli biasanya dilakukan sebanyak 3 kali dalam satu malam pada saat air laut pasang. Pada musim barat, patroli biasanya dilakukan pada pukul 8-10 malam, sementara pada musim timur, patroli dilaksanakan dari jam 2 dini hari hingga pagi hari.

Di P. Venu ini ada 4 petugas yang menjaga pos penyu, Tete (kakek) Erisa, Tete Abidin (John), Om Jumat, dan Beni. Selain berpatroli setiap malam, mereka juga memindahkan telur-telur penyu yang ada di sarang ke lokasi lain yang lebih dekat untuk memudahkan pengawasan. Termasuk memastikan tukik (bayi penyu yang baru menetas) bisa dilepaskan ke laut dengan aman. Keempat penjaga tersebut merupakan masyarakat lokal yang berasal dari Kampung Adijaya di P. Adi, pulau terdekat dari Venu. Keberadaan mereka di pos penjagaan ini juga berhasil mencegah terjadinya pencurian telur penyu, pengambilan penyu untuk diambil dagingnya, termasuk pemanfaatan sumberdaya laut yang ilegal di sekitar perairan P. Venu, seperti penggunaan dopis (bom ikan). Perairan di sekitar P. Venu sendiri sebenarnya termasuk Daerah Tabungan Ikan di Kawasan Konservasi Perairan Daerah Kabupaten Kaimana yang harus bebas dari segala bentuk pemanfaatan/pengambilan biota laut, termasuk ikan.

Malam itu, sekitar jam 10 malam, saya bersama Om Jumat (satu dari empat penjaga di Venu) dan Doddie (Tim Monitoring CI Kaimana) berangkat berpatroli. Dengan bersenjatakan senter, kami mulai menyusuri pantai. Baru sebentar, kami melihat jejak-jejak penyu yang naik ke pantai. Kami langsung menelurusi jejak itu, berharap menemukan sang penyu yang sedang bertelur. Ternyata penyu itu sudah tidak ada, hanya menyisakan jejak kaki penyu yang sudah turun menuju ke laut. “Di sini sarangnya,” ujar Om Jumat sambil mengarahkan senternya pada pasir di bawah rimbunnya vegetasi pantai. “Penyu akan menggali lubang sarangnya dengan siripnya. Dan setelah selesai bertelur, penyu akan mengubur lubang sarangnya kembali dengan pasir hingga tampak seperti layaknya gundukan pasir di sekitarnya. Selanjutnya, penyu akan membuat semacam sarang tipuan dengan mengacak-acak pasir yang ada di dekat sarang yang sebenarnya. Hal ini dilakukan sang penyu untuk membuat sarang aslinya terselubung sehingga mengelabuhi predator,” Om Jumat menjelaskan. Pantas saja, tadi saya malah berpikir kalau lokasi yang ditunjukkan Om Jumat tadi bukan sarang, tapi pengalaman Om Jumat berkata lain. saya yang tertipu.

Kami pun melanjutkan perjalanan. Hingga kurang lebih setengah jam menyusuri pantai, perjalanan patroli kami terhalang oleh pohon-pohon cemara yang tumbang. Memang, banyak pepohonan di pulau ini yang sudah tumbang karena abrasi oleh gelombang laut. Pohon yang tumbang juga menghalangi penyu untuk mendarat. Di masa mendatang, jika berlangsung terus menerus abrasi ini bisa mengancam keberadaan P. Venu dan keberlangsungan penyu-penyu yang mendarat untuk bertelur. Sayang  sekali, kami tidak menemukan penyu yang lain. Kami pun kembali lagi ke pos penjagaan.

Malam ini saya melewatkan kesempatan untuk menyaksikan penyu yang sedang bertelur. Semoga besok malam saya beruntung bisa melihat penyu yang sedang mendarat dan bertelur di pantai. “Biasanya hingga 5 penyu yang mendarat dalam semalam, terutama pada saat musim ombak akan lebih banyak lagi. Beberapa hari ini juga jarang sekali penyu yang mendarat, hanya 1-2 saja, bahkan tidak ada sama sekali,” ujar Beni saat kami berdiskusi di pos.

Besok siangnya, Beni dan Bastian, Asisten Monitoring Penyu CI Kaimana, mengecek beberapa sarang yang sudah siap menetas telur-telurnya. Telur-telur penyu membutuhkan waktu 40-80 hari untuk menetas  di dalam sarang dan keluar dari sarangnya yang memiliki kedalaman ±40-50 cm. Tukik membutuhkan waktu hingga 10 hari untuk keluar dari sarangnya secara bersama-sama (130-200 ekor tukik) setelah menetas. "Darimana tukik itu bisa bernafas di dalam pasir?", pikir saya. Mungkin itulah salah satu kelebihan yang dimiliki oleh tukik ini. Bagaimana cara mengeceknya sarang yang telurnya sudah menetas? Setiap sarang yang sudah ada tanda nomornya itu dicek dengan cara menginjaknya. Kalau ada bagian pasir yang tenggelam saat diinjak, itu berarti telur-telur sudah menetas dan tukik sudah bersiap keluar dari dalam sarang.

Ternyata siang itu, ada tiga sarang yang telur-telurnya sudah menetas. Segera saja, kami menggali sarang itu untuk mengambil tukik-tukik untuk dimasukkan ke dalam boks sebelum nanti malam dilepaskan ke laut. Petugas pun mencatat nomor sarang yang telurnya sudah menetas, termasuk jumlah tukiknya, untuk dicatat. Sejak berdirinya pos penjagaan penyu ini sekitar 1,5 tahun yang lalu, sudah ada lebih dari 30 ribu tukik yang berhasil dilepaskan ke laut.

Senang sekali saya bisa menyaksikan langsung proses ini. Maklum baru pertama kali :D

Inilah saat-saat yang saya tunggu! Malam hari setelah matahari tenggelam, tukik-tukik yang tadi siang menetas pun siap dilepaskan ke laut. Pelepasan tukik dilakukan pada saat matahari sudah tenggelam atau pada malam hari untuk menghindari serangan predator tukik, seperti burung dan ikan. Kami pun mengeluarkan tukik-tukik itu dari boks. Segera saja ratusan tukik mulai berlari merangkak menuju air laut. Tukik ini pasti merasa senang dan begitu bersemangat untuk menuju laut dan merasakan air laut untuk pertama kali.

Setelah makan malam, kami pun melanjutkan patroli lagi. Menyusuri pantai sambil ditemani terangnya sinar bulan purnama. Namun, tidak ada satu pun penyu yang mendarat. Setidaknya, saya sudah menyaksikan proses kelahiran tukik yang baru menetas termasuk pelepasannya tukik-tukik tersebut ke laut. Sungguh pengalaman yang luar biasa bagi saya. Selamat menghadapi dunia nyata dan selamat berjuang Sang Pengembara Lautan!

Satu hal yang patut diacungi jempol adalah perjuangan rekan-rekan dalam menjaga kelestarian penyu dan habitat peneluran penyu di P. Venu. Mari kita lestarikan dan lindungi penyu dari kepunahan!

Comments