Tips: masuk imigrasi bandara Los Angeles, Amerika

Udara dingin malam itu sangat dingin serasa menusuk kulit. Tanggal 3 Agustus 2011 jam 22.30 waktu setempat, saya turun dari pesawat yang telah mendarat di Los Angeles International Airport, salah satu bandara terpadat di Amerika Serikat dan bahkan di dunia. Tak hanya udara dingin yang menyambut saya, jawaban dari petugas bandara juga begitu dingin. Tanpa berkata apa pun, dia menunjukkan arah menuju ke gedung utama bandara dengan senternya.

Segera saya masuk ke gedung utama bandara dan menuju bagian imigrasi. Di bagian imigrasi ini terdapat loket-loket yang sudah dibedakan secara khusus untuk warga US dan non-US. Dengan banyak dan panjangnya antrian, saya agak bingung untuk mencari di mana antrian yang tepat untuk saya. Untungnya ada petugas yang mengarahkan saya ke antrian. Memang, dengan situasi begini bukan tidak mungkin setiap orang akan bingung untuk mengantri di antrian yang mana. Dan di sini memang terdapat beberapa petugas yang mengatur dan mengarahkan para penumpang yang baru turun dari pesawat yang akan mengantri di bagian imigrasi.

Antrian sangat panjang. Sudah satu jam saya berdiri di antrian. Saya merasa sedikit tegang dengan situasi yang saya rasakan. Semuanya orang asing dan tidak ada yang bisa diajak bicara. Tiba-tiba dari belakang saya terdengar suara, “Gimana, sudah selesaikah?”. Sapaan itu bukan dalam bahasa Inggris, melainkan dengan bahasa Indonesia. Itulah yang membuat saya terkejut. Ternyata salah satu petugas bandara di LAX ini berasal dari Indonesia. Bapak-bapak ini sudah 15 tahun bekerja di sini. Kami berbincang sebentar sebelum bapak-bapak itu pamit pulang karena jam kerjanya memang sudah selesai. Obrolan itu memang sedikit melegakan hati saya sekaligus mengurangi ketegangan.

Sebenarnya, sesuatu yang membuat saya cukup tegang adalah random check atau pemeriksaan acak yang dilakukan oleh petugas bandara. Saya kuatir kalau-kalau saya kena. Random check adalah semacam pemeriksaan yang dilakukan oleh petugas di bandara terhadap secara acak terhadap orang-orang yang mencurigakan maupun berpotensi membahayakan. Berdasarkan pengalaman rekan saya yang pernah terkena random check, dia harus membuka semua tas dan barang bawaan, termasuk menyalakan laptop (dikira bom mungkin), termasuk ditanya-tanya dengan berbagai pertanyaan. Dan proses ini memakan waktu cukup lama bisa sampai 3 jam. Hal yang saya lakukan pada saat itu adalah bersikap senormal mungkin dan serileks mungkin sebagai mana orang-orang yang sedang mengantri.

Akhirnya, saya baru mendapat stempel di di bagian imigrasi setelah mengantri hampir 1,5 jam. Cukup membuat waktu saya pikir. Pada saat itu, pertanyaan yang diajukan di bagian imigrasi adalah tujuan ke Amerika dan berapa lama tinggal. Setelah lolos dari imigrasi, saya langsung mengambil bagasi dan meninggalkan bandara.

Dua puluh empat jam kemudian, saya sudah kembali lagi ke LAX setelah seharian saya mengunjungi beberapa tempat di sekitar kota Los Angeles. Saya melanjutkan perjalanan menuju Atlanta.

Saat itu yang membuat saya kuatir adalah pemeriksaan dengan menggunakan CT Scan pada saat sebelum check in. Mengapa? Bukan karena saya membawa barang-barang terlarang atau membahayakan, melainkan proses pemeriksaan di bandara-bandara di Amerika terkenal sangat ketat.

Untuk menghadapi pemeriksaan, saya sudah mempersiapkan beberapa hal sebelumnya, diantaranya:
  • Tidak menggunakan aksesoris yang terbuat dari logam di badan, seperti ikat pinggang. Hal ini untuk menghindari pemeriksaan lebih lanjut saja. Daripada ribet harus melepas ikat pinggang.
  • Mengeluarkan semua barang elektronik dari tas, termasuk laptop dan telepon genggam.
  • Mengeluarkan semua barang bawaan yang termasuk jenis liquid dari tas, seperti air, sabun cair, shampoo, dan sebagainya. Pada saat pemeriksaan memang tidak akan disita, yang penting sudah terbukti liquid tersebut tidak berbahaya.
  • Menggunakan gembok TSA (Travel Security Administration) pada koper. Hal ini untuk menghindari pemeriksaan paksa oleh petugas bandara. Jika kita tidak memakai gembok itu, bisa-bisa gembok kita dibuka paksa atau dihancurkan. Semua petugas bandara di Amerika sudah memiliki kunci gembok TSA. Teman saya sendiri pernah tidak menggunakan gembok TSA pada kopernya, sehingga ia mendapati kopernya dikembalikan oleh petugas bandara dengan koper yang tidak tertutup sempurna dan gembok yang sudah hancur.
Dan akhirnya, dengan persiapan tersebut, saya bisa melewati pemeriksaan dengan aman dan lancar. Tidak ada random check. Tidak ada penyitaan barang. Tidak ada gembok rusak. Alhamdulillah.

Semoga tulisan ini dapat bermanfaat.

Comments